PDF Cetak Surel

Ibadah Sejati – Apa dan Bagaimana ? (1)

(Joshua Guana Tanjung)

 

Sebagaimana halnya dengan produk yang palsu, mereka tidak pernah  dibuat berbeda melainkan mirip sehingga mata orang awam tidak dapat membedakan. Demikian halnya dengan ibadah palsu, sekalipun mereka terlihat sama namun tetap berbeda dengan yang sejati, sebab semua yang palsu memang serupa namun tidak sama. (Joshua Guana Tandjung).


Ketika ia menemukan ibadah yang benar, hal itu  akan memberikan dampak yang besar dalam kehidupannya. Seorang yang sungguh-sungguh beribadah, ia tidak hidup biasa-biasa, melainkan hidupnya akan dipenuhi dengan janji yang membuat hidupnya menjadi makmur, bagaikan pohon yang subur daunnya hijau serta menghasilkan buah.


Ahli Taurat – Beragama namun tidak beribadah

Ahli Taurat dan Orang Farisi, adalah orang-orang yang memiliki hidup keagamaan yang luar biasa, Tuhan Yesus pun mengakui kehebatan hidup keagamaan yang mereka lakukan.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:20)

Namun mengapa Tuhan Yesus mengecam dan menyebut mereka ”kuburan yang dilabur putih”

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. (Matius 23:27)

Mereka melakukan aktifitas keagamaan, namun mereka gagal menemukan ibadah yang benar. Aneh kelihatannya, namun itulah yang terjadi. Mereka melakukan ketetapan-ketetapan dalam hukum Taurat, namun mereka tidak memahami hakekat dan roh dari semua hukum dan ketetapan yang tertulis.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Matius 23:23). Mereka beragama bahkan hidup keagamaan mereka luar biasa, namun mereka tidak melakukan ibadah yang benar. Mereka punya banyak kegiatan dan aktifitas dan melakukan dengan "sempurna" namun mereka tidak melakukan dengan hati dan kasih. Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. (Matius  15:8)

Mahatma Gandhi seorang pemimpin besar sekaligus seorang filosof menyebutkan ada 7 dosa maut, salah satunya adalah ibadah tanpa korban – worship wihtout sacrifice


Mengapa dan Ada Apa dengan Ibadah ?


Yang pertama Ibadah sebuah keahlian dan ketrampilan yang harus dipelajari, ketrampillan tidaklah sama dengan pengetahuan. Ketrampilan dimiliki seseorang ketika ia berlatih atau melakukan berulang ulang, sehingga ia menjadi trampil dan memiliki sense untuk membedakan yang benar dan salah. Ketika ia menemukan ibadah yang benar, hal itu  akan memberikan dampak yang besar dalam kehidupannya. Seorang yang sungguh-sungguh beribadah, ia tidak hidup biasa-biasa, melainkan hidupnya akan dipenuhi dengan janji yang membuat hidupnya menjadi makmur, bagaikan pohon yang subur daunnya hijau serta menghasilkan buah.

Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya. ( 1 Timotius 4:7b-9)


Yang kedua adanya ibadah yang palsu, disamping ibadah yang sejati ada ibadah palsu. Memang dalam belajar, ibadah yang benar, kita juga belajar dari kesalahan dan kekeliruan, sebagai layaknya seorang mempelajari sebuah keahlian. Namun kepalsuan tidaklah sama dengan keliru. Firman TUHAN mengingatkan hari-hari terakhir akan marak munculnya ibadah yang palsu.

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (2 Timotius 3:5)

Yang perlu diingat tidak pernah hal yang palsu itu dibuat berbeda, lihatlah produk palsu, ijazah palsu ataupun berlian palsu, semuanya pasti dibuat mirip, semakin canggih teknologi memalsunya, semakin mirip dan tidak dapat dibedakan oleh orang awam. Kata kunci sebuah kepalsuan adalah kemiripan. Demikian nabi-nabi palsu, mereka akan datang seperti seorang nabi sejati.

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

(Matius 7:15)

Nabi palsu dan mesias palsu, mereka mampu melakukan mujizat dan hal yang “sama” dengan nabi yang sejati.

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. (Matius 24:24)


Jangan lupa, iblispun juga menghadirkan dirinya sebagai ”Tuhan palsu”

Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.    (2 Korintus 11:14)


Demikian halnya ibadah palsu, ia memiliki kemiripan, sepintas kelihatannya sama namun berbeda. Hari-hari ini, banyak orang beranggapan bahwa menghadiri sebuah kebaktian atau pertemuan doa adalah sebuah ibadah. Menghadiri sebuah kebaktian bukanlah ibadah, melainkan waktu beribadah, Bahkan berdoa bukanlah sebuah ibadah, melainkan saat-saat beribadah. Ambillah satu helai daun, sehelai daun adalah bagian dari pohon, namun bukanlah pohon itu sendiri. Menghadiri kebaktian, berdoa, melayani adalah bagian atau aktifitas dari sebuah ibadah, semuanya perlu kita lakukan ketika kita beribadah, namun mereka bukanlah hakekat ibadah itu sendiri. Uraian selanjutnya semoga dapat memberikan gambaran yang utuh.


Gandum dan Ilalang


Kristus sendiri mengajarkan beberapa perumpamaan yang menggambarkan dua hal yang serupa namun tidak sama, salah satunya adalah gandum dan ilalang.

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." (Matius 13:24-26,30)

Apakah sebenarnya perbedaan gandum dan ilalang ? Keduanya adalah sama-sama tanaman, hidup dan bertumbuh. Daunnya sama-sama hijau, ilalang sangat mirip dengan gandum. Apa yang membedakannya? Ditengah-tengah semua kesuburan dan hijaunya hidup ilalang, mereka tidak pernah menghasilkan bulir-bulir yang ber”nutrisi” yang memberi kekuatan bagi makhluk lain.


Itulah sebabnya seringkali saya katakan, ”Sekalipun saya menemukan rahasia berkat dan sukses sehingga hidup ini menjadi makmur dan berhasil namun hidup saya tidak memberi manfaat apapun kepada orang lain, jangan-jangan saya adalah ilalang,” Saya katakan, ”Apabila saya diberi karunia memahami FirmanNya dan membagikan dimana-mana, namun ketika saya tidak lagi memiliki belas kasihan kepada jiwa-jiwa yang membutuhkan, saat itu saya sedang melakukan sebuah permainan kosong dan saya sedang hidup dalam sebuah dusta”


Sahabatku, hari-hari ini ada sebuah kelangkaan akan kasih dan kepedulian ditengah -tengah semakin majunya sarana serta pusat hiburan, ada banyak tangisan dan air mata serta rasa sepi. Mengapa ? Karena manusia semakin mementingkan diri sendiri, makin egois, sekalipun nampak luar semakin religius dan makin maraknya pelbagai kegiatan keagamaan. Firman Tuhan mengingatkan, di hari-hari terakhir, manusia akan semakin egois - Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri (2 Timotius 3;1-2a).


Apabila kita renungkan kehidupan ahli Taurat, sebenarnya apa yang kurang dari ibadah mereka. Saya melihat bahkan ”ibadah” mereka nyaris sempurna. Mereka suka membaca kitab suci, memiliki hidup moral yang baik, melakukan puasa dua kali seminggu, komitment pelayanannya luar biasa, menyeberangi laut untuk mempertobatkan satu orang, dan seterusnya dan seterusnya. Lalu apa yang salah, sehingga Tuhan Yesus menyebut mereka ”keturunan ular beludak” dan ”anak iblis”. Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran (Yohanes 8:43-44)


(bersambung)
Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar
Anda harus login sebelum menulis komentar. Silahkan daftar jika anda belum mempunyai keanggotaan.

busy